Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

Tuesday, February 4, 2020

Kebijakan dan Dampak Virus Corona di Indonesia

Ilustrasi

Kekuatan ekonomi China sangat luar biasa di dunia saat ini. Kebangkitan ekonomi China bahkan mengalahkan Amerika Serikat. Namun dengan adanya virus corona memberikan sedikit catatan untuk 2020, situasi ekonomi China pasti akan mengalami pertumbuhan melambat. Tahun 2019 lalu, pertumbuhan mencapai 6% bisa turun menjadi 5% pada tahun 2020 ini.

Salah satu mitra kuat China adalah Indonesia. Dengan adanya virus corona tentunya akan mengakibatkan hubungan kedua negara tidak semulus yang diperkirakan dan akan mengganggu banyak hal. 

Pemerintah Indonesia melalui pertemuan beberapa menteri memutuskan ; pertama, Pelarangan dan pengetatan impor pangan dari China ke Indonesia. Melalui Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo di media kompas tv mengatakan akan memperketat impor pangan berupa buah-buahan dan sayur-sayuran dari China ke Indonesia. Salah satu produk pertanian yang besar dari China berupa bawang putih yang nilainya mencapai 90% bersumber dari China. Selain itu, Impor jeruk mandarin dan berbagai makanan lainnya.

Menteri Perikanan dan Kelautan, Edhy Prabowo juga demikian. Menginstruksikan untuk menolak binatang hidup dari China. Impor sektor perikanan sangat tinggi dari China yang nilainya mencapai 4 triliun tahun 2018 dan meningkat setiap tahunnya. Jenis perikanan yang berasal dari China berupa ikan, cumi, moluska dan sebagainya. Selain itu, Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto menginstruksikan pelarangan impor hewan hidup berupa kura-kura, ular dan hewan reptil lainnya. 

Keputusan kedua, Pembatasan warga negara china masuk ke Indonesia begitupun sebaliknya. Adapun turunannya yakni 1). Penghentian bebas visa bagi negara China masuk Indonesia. Melalui Menlu Retno, Pemerintah menghentikan semua visa dan visa on arrival warga China. 2). Pemerintah memutuskan pendatang dari China tidak diperkenangkan masuk dan tansit di Indonesia. Pendatang yang dilarang masuk adalah mereka yang telah tinggal selama 14 hari di China. 3). Semua penerbangan dari dan ke China - Indonesia dihentikan mulai hari rabu kemarin.4). Mengevakuasi sebanyak 243 warga Indonesia yang berada di China. lagi tahap observasi di Natuna sekarang.5). Seluruh warga negara Indonesia dilarang berkunjung ke negara China untuk sementara waktu.

Kebijakan pelarangan impor dan keluar masuknya warga China di Indonesia tentunya memberikan konsekuensi terhadap perekonomian Indonesia. Beberapa sektor yang akan terdampak yakni pertama, sektor perdagangan ekspor impor. sebanyak 16 persen ekspor Indonesia ke China, begitupun sebaliknya sebanyak 30 persen impor Indonesia dari China.

Kedua, Sektor investasi. Investasi China terhadap pertambangan cukup tinggi. bukan hanya itu, pekerja China yang beraktivitas di Indonesia kurang lebih 40.000 orang yang tersebar di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, Jawa dll. Ketiga, Sektor Pariwisata. Wisatawan China terbesar kedua di Indonesia setelah Malaysia. Dari Januari - Juni 2019 saja sebanyak 1,05 juta orang atau rata-rata 175.000 orang per bulan. Namun jika virus corona tidak diantisipasi maka wisatawan dari negara lain enggan berkunjung juga ke Indonesia. Keempat, China salah satu pemasok minyak terbesar dari Indonesia sebesar 20 persen. dan lainnya.

Intinya Indonesia harus waspada dan jangan sampai Virus Corona masuk ke Indonesia. karena kalau virus corona ada, pasti akan berdampak lebih parah terhadap sektor pariwisata dan lainnya. Negara lain diluar China pasti akan berhati-hati berkunjung dan kerjasama dengan Indonesia kedepan.

begitu kura-kura

data dari berbagai sumber

Monday, February 3, 2020

UPDATE KENDARI 3 FEBRUARI : CORONAVIRUS


Update korban coronavirus per 3 februari yang terinfeksi mencapai 21.558 orang. Jumlah orang dikarantina mencapai 189.583 orang. Korban yang meninggal dunia 361 orang dan korban yang sembuh 475 orang. 

Pola penyebaran coronavirus di China tersebar di 31 Provinsi berdasarkan data per 01 Februari 2020, yakni terbesar di Hubei 9.074 kasus, Zhejiang 661 kasus, Guangdong 604 kasus, Henan 493 kasus, Hunan 463 kasus, Haenan 493 kasus, Jiangxi 333 kasus, Anhui 340 kasus. Lainnya di Beijing 183 kasus, Shanghai 177 kasus,  Tianjin 45 kasus, Chingqing 262 kasus, Shandong 225 kasus, Sichuan 231 kasus, Yunnan 99 kasus, Shanxi 56 kasus, Fujian 159 kasus, Liaoning 64 kasus, Hainan 64 kasus, Guiszhou 38 kasus, Guangxi 111 kasus, Ningxia 28 kasus, Hebei 104 kasus, Jiangsu 236 kasus, Heilongjian 95 kasus, Shaanxi 116 kasus, Gansu 40 kasus, Inner Mongolia 27 kasusu, Qinghai 11 kasus dan tibet 1 kasus dll.

Pola penyebaran berbagai negara data 3 Februari, tersebar di 26 Negara dengan total terjangkit 186 orang, yakni terbesar di Jepang 20 kasus, Thailand 18 kasus, Singapore 18 kasus, Korea Selatan 15 kasus, Hongkong 15 kasus, Australia 12 kasus, Amerika Serikat 11 kasus, Germany 10 kasus, Taiwan 10 kasus. Lainnya di Macau 8 kasus, Malaysia 8 kasus, Vietnam 8 kasus, France 6 kasus, United arab 5 kasus, Kanada 4 kasus, India 3 kasus, Philipina 2 kasus, Russia 2 kasus, Inggris 2 kasus, Kambodia 2 kasus, Finlandia 1 kasus, Nepal 1 kasus, Spanyol 1 kasus, Sri lanka 1 kasus dan swedia 1 kasus.  

Pasien coronavirus yang meninggal dunia terbanyak di Hubei 294 orang, Heilongjang dan henan masing-masing 2 orang, Beijing Shanghai Jiangxi Hunan Hebei masing-masing 1 orang. 

Dari hasil analisis kami, tingkat kematian pasien dapat dilihat dari jumlah warga yang terjangkit dan meninggal dunia. Total orang yang terjangkit 21,558 orang dan jumlah orang meninggal 361 orang per 2 februari. Jadi tingkat kematian 21.558 orang ; 361 orang = 60 orang, Artinya dari 60 orang yang terjangkit, 1 orang diantaranya meninggal dunia.

Pasien coronavirus yang sembuh sebanyak 328 orang yang tersebar di China yakni terbesar di Hubei sebesar 215 orang, Jiangxi Guangdong dan Zhejiang masing-masing 10 orang sembuh tiap provinsi, kota provinsi lain hanya mampu sembuhkan 1-6 orang.

Analisa kami terkait tingkat kesembuhan pasien dapat dilihat dari jumlah warga yang terjangkit coronavirus. Total orang yang terjangkit hingga 2 Februari sebanyak 21,558 orang, dan jumlah orang yang sembuh 475 orang. Jadi tingkat kesembuhan 21,558 orang : 475 orang = 45 orang, Artinya dari 45 orang yang terjangkit 1 orang diantaranya dapat disembuhkan.

Sunday, February 2, 2020

Tingkat Kesembuhan Dan Kematian Coronavirus


Analisa ini berlaku jika belum ditemukan vaksin coronavirus. Pertama, Tingkat kesembuhan pasien dapat dilihat dari jumlah warga yang terjangkit coronavirus. Total orang yang terjangkit hingga 2 Februari sebanyak 21,558 orang, dan jumlah orang yang sembuh 475 orang. Jadi tingkat kesembuhan 21,558 orang : 475 orang = 45 orang, Artinya dari 45 orang yang terjangkit 1 orang diantaranya dapat disembuhkan.

Kedua, tingkat kematian pasien dapat dilihat dilihat dari jumlah warga yang terjangkit dan meninggal dunia. Total orang yang terjangkit 21,558 orang dan jumlah orang meninggal 361 orang per 2 februari. Jadi tingkat kematian 21.558 orang ; 361 orang = 60 orang, Artinya dari 60 orang yang terjangkit, 1 orang diantaranya meninggal dunia.

Kami ulangi tingkat kesembuhan pasien coronavirus, dari 45 orang yang terjangkit dapat disembuhkan 1 orang diantaranya. Begitupun tingkat kematian dari 60 orang yang terjangkit maka 1 orang pasti meninggal dunia.


Melihat tren  sampai 9 februari 2020, pasien terinfeksi akan meningkat mencapai 82,469 orang. Dengan tingkat kematian mencapai 1.374 orang dan orang mampu sembuh mencapai 1.833 orang.

Thursday, January 30, 2020

Update Kendari 30 Januari : Wuhan Coronavirus Outbreak



Update data coronavirus per 30 Januari yakni pertama, total pasien meninggal dunia 214 orang, bertambah 43 orang hari ini. Kedua, Konfirmasi orang yang terinfeksi sebanyak 9.821 orang, hanya 1.271 yang terinfeksi dan mengalami perbaikan dibandingkan kemarin mencapai 1.797 orang. Ketiga, Sakit parah akibat virus tetap 1.370 orang dan terinfeksi 12.167 orang, sama dengan data 29 januari. Keempat, Total warga yang dikarantina 88,693 orang. Kelima, Total orang yang mampu disembuhkan hanya 124 orang. Keenam, Coronavirus telah menyebar di 23 Negara dan seluruh Provinsi di China. Nampaknya mengalami perbaikan dalam hal korban terinfeksi. Namun untuk korban meninggal dunia makin meningkat dibandingkan kemarin dari 38 orang menjadi 43 orang. 

KEJADIAN BERBAGAI NEGARA

Kejadian berbagai negara bermacam-macam yakni pertama, Pemerintahan Tibet telah mengkorfimasi kasus pertamanya yang sebelumnya hanya dugaan. Kedua, Pemerintah Indoa telah mengkongfirmasi kasus pertama coronavirus terhadap seorang siswa yang baru pulaang dari Universitas Wuhan. Ketiga, Pemerintah Filipina mengkonfirmasi kasus pertamannya pada seorang wanita Tionghoa yang tiba di Manila pada tanggal 21 Januari. Keempat, Pemerintah Malaysia mengkonfirmasi satu kasus jadi total yang terinfeksi menjadi delapan orang. Kelima, Pemerintah Singapura mengkonfirmasi tiga kasus baru sehingga total yang terinfeksi menjadi 13 orang. Keenam, Pemerintah Korea Selatan mengkonfirmasi dua kasus baru, salah satu kasus dari penularan antar manusia

Ketujuh, Pemerintah Vietnam mengkonfirmasi tiga kasus baru sehingga total menjadi 5 orang. ketiganya terinfeksi ketika melakukan perjalanan pelatihan di Wuhan. Kedelapan, Pemerintah Prancis mengkonfirmasi kasus keenamnya. Kesembilan, Pemerintah Italia melalui perdana menteri, Giuseppe Conte, mengkonfirmasi dua kasus pertama korban coronavirus. Kesepuluh, Pemerintah Jerman mengkonfirmasi kasus kelima. Seorang karyawan perusahaan dan empat kasus sebelumnya dipekerjakan di perusahaan tersebut. 
Kesebelas, Pemerintah Amerika Serikat mengkonfirmasi kasus keenam, dari pasangan pasien yang sudah terinfeksi sebelumnya di Chicago. Kasus pertama di AS penularan antara manusia. Terakhir, Penyebaran telah terjadi 31 provinsi di China. 

KEBIJAKAN PEMERINTAH BERBAGAI NEGARA

Kebijakan Pemerintah berbagai negara yakni Pertama, Pemerintah Vietnam menutup lalu lintas udara dengan Cina. Kementerian untuk sementara waktu berhenti mengeluarkan visa kepada warga Tiongkok di dalam wilayah epidemi. Selain itu, penyeberangan di gateway, bandara, pelabuhan ditempatkan di bawah pengawasan yang lebih tinggi, dengan pemantauan ketat dan pemeriksaan kesehatan, diterapkan untuk manusia dan barang-barang serta pelarangan penyebrangan terhadap satwa liar dan turunannya. 

Kedua, Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte menyatakan dalam konferensi pers bahwa, Italia telah menutup semua lalu lintas udara dari dan ke negeri China. Ketiga, Kantor Penghubung antara dua Korea di kota perbatasan Kaesong ditutup untuk waktu yang tidak ditentukan untuk mengantisipasi penyebaran virus. Keputusan itu dibuat setelah negosiasi antara perwakilan kedua negara tadi pagi pada 30 Januari, diinformasikan oleh Kementerian Korea Selatan. 

Keempat, Singapura mengumumkan bahwa setiap rumah tangga akan menerima bantuan masker mulai dari 1 Februari. Kelima, Pesawat Udara dan Laut dari Prancis membatalkan semua penerbangan ke daratan Cina hingga 9 Februari. Keenam, Rusia mengumumkan pembatasan perjalanan kereta api dengan Cina, sehingga hanya kereta langsung antara Moskow dan Beijing yang tersisa.

Ketujuh, Pemerintah Amerika Serikat memberikan wewenang kepada seluruh staf diplomatik untuk mengevakuasi keluarganya yang berada di China. Kedelapan, Menteri luar negeri Inggris Dominic Raab mengungkapkan bahwa penerbangan darurat yang berisi sekitar 120 warga Inggris dari Wuhan yang ditunda 24 jam, dijadwalkan mendarat di RAF Brize Norton pada Jumat pagi, di mana para penumpang akan dibawa ke Wirral untuk karantina selama dua minggu. Kesembilan, WHO melalui Tedros Adhanom seperti dikutip dari kompas.com (31/01) mengumumkan darurat international. Hal ini bukan berarti tidak mempercayai China mampu mengendalikan wabah. Tetapi mengkhwatirkan menyebar ke negara-negara yang sistem kesehatannya lemah.

Tuesday, January 28, 2020

Update Kendari 28 Januari : Wuhan Coronavirus Outbreak


Update 28 Januari 2020

Perkembangan Coronavirus pagi ini (data 28/01/2020) Jumlah korban makin meningkat. Korban meninggal Dunia sebanyak 132 Orang, Terinfeksi 9.239 orang, Terindikasi 5.974 orang, Pasien Parah 1.239 orang. Korban makin makin mengerikan

Penyebaran coronavirus ke negara lain mengalami perkembangan juga dalam warga yang terinfeksi berikut datanya yang dikutip dari wikipedia

Pertama, Thailand mengkorfimasi enam kasus baru lagi, jadi total yang terinfeksi di Thailand sebanyak 14 orang. Pasien merupakan wisatawan asal Tiongkok China.

Kedua, Jepang mengkorfimasi sebanyak 3 kasus baru, sehingga total yang terinfeksi virus sebanyak 7 orang di Jepang.

Ketiga, Kasus pertama terinfeksi coronavirus di Jerman. Orang yang terinfeksi adalah Warga negara Jerman yang tidak pernah melakukan perjalanan ke Wuhan China. Namun, memiliki hubungan dengan kolega china dan terinfeksi coronavirus. jadi sebanyak 3 orang yang terinfeksi di Jerman.

Keempat, Prancis juga menemukan kasus yang pertama. Seorang Wisatawan asal china yang terjangkit coronavirus dan dalam kondisi di Prancis sekarang ini.

Kelima, Kanada juga demikian, mendeteksi seorang pria yang berusia 40 tahun, karena baru-baru ini melakukan perjalanan ke Wuhan.

Keenam, Pemerintah Brazil melalui menteri kesehatan melaporkan 3 kasus baru terduga terinfeksi coronavirus.

Kebijakan Pemerintah Berbagai Negara
Pertama, CDC China mengatakan akan menempatkan stafnya di 20 bandara AS yang memiliki fasilitas karantina.

Kedua, Filipina menangguhkan penerbitan visa bagi wisatawan Tiongkok China.

Ketiga, Thailand melalui menteri kesehatan, Anutin Charnvirakul menyatakan "kita tidak dapat menghentikan virus corona di negara ini".

Keempat, Pemerintah Hongkong melalui Carrie Lam menyatakan Layanan kereta cepat antara Hongkong dan China daratan akan dihentikan mulai 30 Januari, begitupun jalur layanan transportasi lainnya untuk menghentikan penyebaran coronavirus.

Pemerintah Hongkong juga meminta semua karyawannya untuk bekerja dalam rumah, kecuali dalam kondisi sangat penting.

Terakhir pemerintah Hongkong melalui Carrie Lam kembali mengeluarkan kebijakan untuk menutup perbatasan China - Hongkong, Man Kam To dan Sha Tau Kok.

Kelima, Pemerintah Inggris memperingatkan warganya untuk tidak melakukan perjalanan ke China, kecuali dalam kondisi sangat penting.

Penelitian

Pertama, Sebuah penelitian ilmuan Inggris - China mengemukakan bahwa pasien yang terinfeksi coronavirus jauh lebih tinggai dari yang diperkirakan. Dalam laporannya menyebutkan korban terinfeksi coronavirus sudah mencapai 26.701 kasus per 28 januari 2020.

Kedua, Para ilmuan Dohert Institute di Melbourne mengemukakan telah berhasil menumbuhkan 2019-nCo dari sampel pasien.

20_Wuhan_coronavirus_outbreak

Monday, January 27, 2020

Update Kendari : Corona Virus


CoronaVirus atau Virus Wuhan atau 2019-NCoV merupakan virus yang menjangkiti tubuh manusia dan sangat berbahaya karena menyebabkan meninggal dunia sangat cepat.

Awal mula coronavirus berasal dari Kota Wuhan, China. Adapun sumber virus dicurigai berasal dari pasar makanan yang menjajakan hasil laut dan hewan hidup seperti tikus, ular, kelelawar dll. Sebagaimana kebiasaan orang China yang percaya bahwa makan hewan hidup seperti ular, tikus dan kelelawar mampu menciptakan umur yang panjang dan kekuatan dalam tubuh.

Pola penyebaran 
Coronavirus menyerang manusia dengan menyerang saluran pernafasan dan berujung kematian. Pola penyebaran virus dapat melalui antar manusia karena faktor kontak mata, keringat, dan sebagainya.

Tanda penyakit berupa demam diatas 38 derajat, sukar bernafas, batuk dan sakit kepala. Ironisnya sampai sekarang, belum ada pihak di dunia ini yang mampu untuk menemukan vaksinnya. Semuanya masih menggunakan asumsi danatau menggunakan obat penyakit lain seperti obat sars, HIV dll, untuk mengisolasi virus dalam tubuh manusia.

Awal mula kejadian di Wuhan
Menurut Komisi Kesehatan Wuhan, Kemunculan Coronavirus bermula dari pasien yang datang berobat 12 desember 2019, seorang pasien mengalami penyakit pneumania. Pasien pun makin bertambah dari hari ke hari.

31 desember 2019, pasien menjadi 27 orang. Pihak otoritas rumah sakit mulai curiga dengan kondisi yang ada. Tidak sampai seminggu, pasien makin besar berjumlah 59 orang dengan 7 orang yang sakit parah.

Update 21 Januari 2020
Isu coronavirus atau biasa yang dinamakan 2019-NCoV yang terjadi di Wuhan  China pada tanggal 20 Januari. Mulai menarik perhatian netizen Indonesia pada tanggal 21 Januari. Berikut data korban di China :


  • Meninggal dunia 6 orang
  • Terinfeksi virus sebanyak 300 orang
  • Penyebaran mulai masuki negara di asia seperti Taiwan, Hongkong, Thailand, Korea Selatan dan Japan.
Update 22 Januari 2020
Pemerintah Indonesia melalui Menteri Kesehatan dan Menteri Perhubungan mengantisipasi dengan cara menyiapkan alat pendeteksi orang asing yang akan masuk Indonesia. Sebanyak 135 pintu masuk Indonesia melalui jalur darat, udara dan laut mulai siaga.

Data korban di China makin meningkat begitupun penyebarannya :
  • Meninggal dunia 17 orang 
  • Terinfeksi meningkat dua kali lipat menjadi 600 orang.
  • Penyebaran ke negara lain meningkat, mulai masuk ke negara Amerika Serikat.





Sunday, February 4, 2018

Gizi Buruk Di Daerah Lumbung Pangan

Ilustrasi

Sulawesi Tenggara mengalami surplus pangan setiap tahun dan bahkan dijadikan kawasan lumbung pangan, tetapi gizi buruk merajalela di berbagai Kabupaten dan Kota.

Ironis, gizi buruk merajalela padahal Sulawesi Tenggara terkenal dengan wilayah daratan dan kepulauan yang memiliki sumber pangan melimpah bahkan dijadikan sebagai lumbung padi nasional. Sumber pangan seperti tanaman pangan dan holtikultura, peternakan, perkebunan dan perikanan. 

Khusus untuk produksi padi terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Menurut Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas TPP SULTRA, Antoni Balaka yang diliput beritakota kendari (03/2017), Produksi padi pada tahun 2016 mencapai 696.945 ton dengan luas panen 173.496 ha, jumlah tersebut mengalami peningkatan 5,48 persen dibandingkan tahun 2015.

Wilayah produksi pangan padi hampir seluruh Kabupaten dan Kota se-sulawesi tenggara, kecuali Kabupaten Wakatobi. Namun produksi padi terbesar berada di Kabupaten Konawe dengan luas areal 41.612 ha, Kabupaten Kolaka 30.666 ha, Kabupaten Konawe Selatan 27.220 ha dan Kabupaten Bombana 12.100 ha. (Data Bappeda Sultra). Dengan luas tanaman padi itu, Sulawesi Tenggara berkontribusi terhadap produksi pangan nasional sebesar 0,88 persen pada tahun 2015. 

Kasus Gizi Buruk
Awal tahun 2018, beberapa berita media massa memberitakan kasus gizi buruk terjadi di Sulawesi Tenggara. Kasus pertama yang menimpa balita Arisandi (10 bulan). Ia terlahir dengan kehidupan keluarga yang pas-pasan. Orang tuanya Abu (31) yang bekerja sebagai petani di Desa Ulu Pohara, Kecamatan Lahungkumbi, Kabupaten Konawe. Jika musim tanam telah usai, maka ayah Arisandi harus mencari pekerjaan lain untuk menghidupi keluarganya. 

Arisandi pada awal kelahirannya diberi susu formula khusus bayi oleh orang tuanya, namun ketika pekerjaan orang tuanya tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga terpaksa diganti dengan susu murahan yang banyak mengandung lemak dan kadar gula. 

Ekonomi tidak mampu mengakibatkan Arisandi harus mengalami gizi buruk. Dampaknya terjadi luka-luka dan alergi akibat kekurangan nutrisi.

Kasus kedua yang menimpa Muhammad Adam Saputra (7 bulan). Tunru (21) pernah memberikan susu balita untuk anaknya. Tunru yang bekerja sebagai pekerja serambutan dan kadang-kadang bekerja sebagai kuli bangunan tidak mempunyai penghasilan tetap, sehingga nutrisi untuk anaknya kadang dihentikan.

Warga RT 15 RW 03, Kelurahan Mandonga, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari itu kadang tidak mampu lagi membeli susu formula bayi untuk anaknya. Akhirnya memberi susu orang dewasa, berupa susu kental manis. Hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ASI anaknya. 

Dampak dari ketidakmampuan ekonomi Tunru mengakibatkan Muhammad Adam harus dirawat di Rumah Sakit Bahteramas, karena berat badannya semakin hari semakin menurun hingga 4,8 kg. 

Kasus ketiga menimpa Bayi Muhammad Muharram umur 4 bulan. Warga jalan Sao Sao, Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari itu mengalami gizi buruk karena keterbatasan Ekonomi. 

Orang tua laki-laki bayi muharram sehari-harinya bekerja sebagai pemulung dan orang tua perempuan sebagai ibu rumah tangga. Kedua orang tuanya mempunyai penghasilan pas-pasan sehingga tak mampu membeli susu bayi karena harganya mahal. Karena itu, Orang tuanya membelikan susu kental manis sebagai pengganti nutrisi.

Dengan begitu, Kondisi tubuh muharram mengalami penurunan dan gejala gizi buruk. Akibatnya harus di rawat rumah sakit. Untungnya biaya perawatan mendapatkan bantuan dari Pihak RS Bahteramas dengan menggunakan kartu kesehatan versi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, kartu Bahteramas. Jadi biaya perawatan gratis.

Kasus keempat dialami Zulfan umur 8 tahun. Warga Dusun Barakati, Desa Komala, Kecamatan Wangi Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi itu mengalami kekurangan gizi sejak umur 6 tahun, jadi sudah 2 tahun mengalami kekurangan gizi. 

Zulfan mengalami gizi buruk tipe marasmus dengan tanda-tanda nyeri perut dan demam, bab bercampur darah dan terdapat benjolan di Anus. Kondisi menimpa Zulfan karena ditinggalkan oleh kedua orang tuanya yang sedang mencari penghidupan di rantauan pulau Bacan, Maluku. Zulfan hidup bersama neneknya di Wakatobi. 

Kasus gizi buruk di Wakatobi bukan hanya kali ini, tetapi pada tahun 2017 lalu, terdeteksi kurang lebih 25 anak yang terkena gizi buruk. Menurut dokter spesialis anak RSUD Wakatobi, dr Gazali yang diliput zonasultra.com bahwa sedikitnya 20 anak yang menderita gizi buruk di pulau Binongko, Wakatobi. Kondisi diketahui setelah Dinas Kesehatan setempat membuka pelayanan kesehatan gratis di UPTD.

Menurut data Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2016, Kasus gizi buruk hampir terjadi di semua Kabupaten Kota dengan jumlah penderita gizi buruk tahun 2015 sebanyak 415 kasus. Data gizi buruk tertinggi hingga terendah yakni Muna 45 kasus gizi buruk, Bombana 31 kasus gizi buruk, Buton 28 kasus gizi buruk, Konawe Selatan 23 kasus gizi buruk, Buton Selatan 17 kasus gizi buruk, Buton Tengah 16 kasus gizi buruk, Kolaka 15 kasus gizi buruk, Konawe 14 kasus gizi buruk, Kolaka Utara 14 kasus gizi buruk, Kendari 10 kasus gizi buruk, Baubau 8 kasus gizi buruk, Konawe Utara 8 kasus gizi buruk, Wakatobi 5 kasus gizi buruk, Buton Utara 4 kasus gizi buruk, Muna Barat 4 kasus gizi buruk, Konawe Kepulauan 3 kasus gizi buruk dan hanya Kolaka Timur yang tidak ada kasus gizi buruk.

Daerah yang tertinggi kasus gizi buruk di Sulawesi Tenggara adalah Kabupaten Muna, Bombana, Buton dan Konawe Selatan. Daerah yang terendah kasus buruk adalah Kabupaten Buton Utara, Muna Barat dan Konawe Kepulauan.

Menurut Data WHO 2010, Di Indonesia ada sekitar 8,81 juta anak kurang gizi. Provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi adalah Nusa Tenggara Barat 48,01%, Sulawesi Barat 45,98% dan Provinsi Sulawesi Tenggara 38,89%.

Hasil penelitian Alinea Dwi Elisanti yang diterbitkan Indonesia Journal For Health Sciences IJHS, edisi maret 2017 menyebutkan pertama, Sulawesi Tenggara dalam kategori balita kurang komsumsi kalori termasuk tinggi mencapai 3.4%-4.5%, mirip dengan daerah Papua. Kedua, Sulawesi Tenggara dalam kategori balita kurang komsumsi protein masuk kategori tinggi mencapai 4.4%-7% mirip dengan papua. Ketiga, Kesimpulan penelitian status gizi balita paling rendah di Indonesia adalah Nusa Tenggara Timur NTT, Sulawesi Tenggara dan Maluku.

Sumber 

https://bangwilsultrablog.wordpress.com/2016/06/22/potensi-pangan-sultra/

https://www.suarakendari.com/produksi-beras-sultra-surplus-135-000-ton.html

https://sultra.antaranews.com/berita/282434/produksi-padi-sultra-capai-660720-ton

http://bkk.fajar.co.id/2017/03/22/produksi-pangan-sultra-terus-naik/

http://www.depkes.go.id/resources/download/profil/PROFIL_KES_PROVINSI_2016/28_Sultra_2016.pdf

https://zonasultra.com/dua-balita-penderita-gizi-buruk-dirawat-di-rsud-bahteramas.html

http://penaaktual.com/miris-balita-di-kendari-ini-menderita-gizi-buruk.html

https://www.sultrakini.com/berita/saya-pengen-berobat-supaya-saya-sembuh-dan-pergi-sekolah-di-tk

https://zonasultra.com/20-anak-di-pulau-binongko-menderita-gizi-buruk.html

Pemetaan Status Gizi Balita di Indonesia, Indonesian Journal for Health Sciences (IJHS). Vol.1, No.1, Maret 2017

Thursday, January 25, 2018

KETAHANAN PANGAN INDONESIA TERBURUK




Ketahanan Pangan Indonesia terburuk jika dilihat dari sisi sumber daya dan ketahanan. Menurut penilaian Global Food Security Index 2017, Indonesia berada pada urutan ke 109 dari 113 Negara dengan skor 46,5. Pemberian skor dari 100 -0. Skor 100 dianggap terbaik.

Negara yang memiliki ketahanan pangan terbaik dilihat dari ketahanan sumber daya alam adalah Austria dari urutan 11 menjadi urutan ke 3. dan Negara Denmark memiliki kategori ketahanan pangan terbaik disebabkan kurangnya dampak perubahan iklim dan disertai kapasitas adaptasi yang tinggi dan erosi tanah yang sangat rendah.

Negara berpenghasilan menengah kebawah sangat terancam dan berpontesi memaksa untuk kembali berpendapatan rendah. Penyebabnya tidak lain, kenaikan permukaan laut dan suhu, penipisan air tawar dan terjadi kontiminasi, penggundulan hutan, dan manajemen resiko bencana yang buruk. Hal ini semakin diperburuk dengan kapasitas adaptasi rendah, terutama dalam pengelolaan risiko bencana pada pertanian.

Bukan hanya negara berpenghasilan rendah yang terancam krisis pangan, tetapi negara berpenghasilan tinggi pun terancam krisis pangan. Contoh Kanada dan Amerika sangat rentan kekeringan yang berhubungan dengan pertanian. Jadi untuk mengatasi krisis pangan, fokus kedepan adalah menciptakan teknologi penggunaan air untuk mengurangi resiko ini.

Sumber 

Indeks Pangan Indonesia Meningkat





Global Food Security Index tahun 2017, mengelurkan penilaian ketahanan pangan berbagai negara. Proses penilaian dibagi dalam 2 kategori yakni negara yang mengalami peningkatan ketahanan pangan dan negara yang mengalami penurunan ketahanan pangan. 

10 negara yang mengalami peningkatan ketahanan pangan adalah Negara Sierra Leone (+2.6), Paraguay (+2.0), Ecuador (+1.4), Bangladesh (+1.3), Nicaragua (+1.3), Ghana (+1.2), Colombia (+1.1), Jordan (+1.1), Peru (+1.1), dan Finlandia (+0.9).

5 Negara mengalami penurunan ketahanan pangan yang parah dan akut adalah Venezuela (-7.1), Qatar (-6.0), Madagascar (-4.7), Congo (-3.8) dan Yemen (-3.4). 

Negara yang mengalami keterpurukan pangan sebanyak 74 negara dan Negara yang peningkatan ketahanan pangan kurang lebih 40 negara.

Dalam proses penilaian yang diadakan Global Food Security Index, Indonesia berada pada posisi negara yang mengalami perbaikan ketahanan pangan dengan peningkatan sebesar + 0,2.

Sumber 

Sunday, January 21, 2018

Arsitektur Rumah Tradisional Sulawesi Tenggara

Dibalik dari arsitektur rumah tradisional Warga Sulawesi Tenggara, tentunya didasari beberapa pertimbangan. Menurut Salah satu situs manfaat.co.id menyatakan bahwa Manfaat Rumah Panggung, Pertama, Anti Banjir. Pemukiman yang berada di kawasan rawa, sungai dan laut dapat memberi manfaat bagi pengguna agar terhindar dari banjir. 

Kedua, Tahan gempa. Dengan menggunakan bahan kayu sebagai bahan utama yang notabene memiliki sifat elastis terhadap gempa. Bila menggunakan bahan bangunan semen dan batu bata dengan mudah goyang dan rubuh. 

Ketiga, Anti Binatang Buas. Bagi masyarakat yang bermukim di kawasan hutan, maka struktur rumah panggung yang lebih tinggi dari keadaan sekitar akan menyulitkan binatang masuk kedalam rumah. Selain itu, Pemilik rumah dapat memantau keadaan ancaman-ancaman dari atas rumah. 

Keempat, Ramah lingkungan. Interior ruangan memberikan kesejukan tersendiri karena udara bebas keluar masuk rumah melalui ventilasi pada dinding, atap dan celah kayu. Pemilik tidak lagi membutuhkan penghangat ruangan seperti AC dan Kipas Angin seperti halnya rumah yang dianggap modern sekarang.

Kelima, Halaman lebih luas. Bagian bawah rumah rumah dapat dijadikan sebagai ruang tambahan seperti dapur, tempat bermain, kandang ternak, gudang dan lainnya.

Keenam, Menjaga kesehatan tubuh. Menurut dr. Muki Partono yang diliput detikhealth.com menyatakan, orang-orang zaman dahulu jarang sekali mengeluhkan sakit punggung, karena memiliki kebiasaan tidur di balai-balai yang terbuat dari papan yang mengakibatkan tulang belakang beristirahat. Dan banyak lagi manfaat tidur diatas papan kayu dibandingkan tidur diatas spring bad atau kasur.

Rumah diatas air di sekitar Teluk Kendari pada tahun 1928. Foto Kendari Over (Drs.M.Farid Thayeb) 

Rumah Panggung Sekitar Pelabuhan Kota Kendari. Sumber Koleksi Museum Kendari

Rumah Panggung Warga Sekitar Sodoha Pada Tahun 1928

Rumah Panggung Warga Blimi Di Wariti, Kabupaten Buton Pada Tahun 1930

Rumah Panggung Warga Mekongga, Kabupaten Kolaka Pada Tahun 1930


Sumber 

http://syaiful-mansyur.blogspot.co.id/2011/11/foto-kendari-tempo-doeloe-th1928.html

http://amincheny.blogspot.co.id/2016/05/galery-foto-suawesi-tenggara-tempo-dulu.html

https://health.detik.com/read/2014/12/26/090741/2787476/763/alas-tidur-yang-seperti-ini-bisa-cegah-sakit-punggung

https://manfaat.co.id/manfaat-rumah-panggung

Saturday, January 13, 2018

Krisis Pangan, Junk Food dan Bank Makanan Di Kota Kendari



Beberapa hari terakhir, kita dihebohkan dengan berita impor beras yang akan dilakukan Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, sebanyak 500.000 ribu ton. Impor dianggap mendesak untuk menjaga kestabilan harga di pasaran yang mulai merangkak naik Rp. 2000 per Kg. 

Namun, dibalik itu tidak sedikit warga sampai politisi yang memprotes kebijakan tersebut, karena dianggap akan mematikan produksi petani lokal dan menguntungkan para kartel pangan. 

Beberapa hari terakhir juga, kita dihebohkan dengan gerakan warga berbagai negara yang mengakibatkan kerusuhan. Penyebabnya tidak lain, krisis pangan seperti yang terjadi di Venezuela, Iran dan Tunisia. 

Venezuela dan Iran yang terkenal sebagai penghasil minyak terbesar di dunia, ternyata mampu tumbang dan mengalami krisis pangan. Warga mulai menjarah toko-toko diberbagai kota di Venezuela. Begitupun di Iran, Warga turun ke jalan disebabkan harga sembako yang naik.

Kita kemungkinan mengalami ketakutan itu, terjadi kenaikan harga pangan di tahun politik yang berpotensi menimbulkan kekacauan dalam negeri. 

Selain dari krisis pangan, Bulan oktober 2017 lalu, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Sulawesi Tenggara (Sultra) mengidentifikasi pangan jajanan anak banyak tidak higienis di Kota Kendari. Jajanan anak banyak mengandung zat pewarna dll (lenterasultra.com). Makanan yang tidak sehat itu biasa disebut Junk Food atau makanan sampah.

Pemerintah Kota Kendari dalam hal ini Wakil Walikota Kendari, Sulkarnain Kadir menyatakan di media radar investigasi bahwa mendukung hadirnya program dalam mengatur jajanan sehat yang di komsumsi anak-anak sekolah di Kota Kendari.

Jadi, persoalan pangan bukan hanya berbicara pangan yang bergizi tapi krisis pangan yang mengancam anak-anak di Kendari.

Belajar Dari Pengalaman
Salah satu kelompok yang berusaha mengatasi krisis pangan dan makanan higienis dan bergizi untuk anak dilakukan oleh London Food Bank. 

Menurut Koordinator Food Bank London, Mary Ann McDowell, Harga makanan semakin hari semakin tinggi dan tidak terjangkau disana, bahkan diperkirakan akan meningkat sampai 1-3 persen pada tahun 2018 mendatang.

Komunitas Food Bank London telah melayani hampir 3.500 rumah tangga perbulan. Dengan cara mengidentifikasi setiap anggota keluarga yang kurang mampu dan berpenghasilan rendah danlalu diberi makanan gratis yang sehat.

Hal yang sama dilakukan sosiolog asal Filipina Maria Fides F. Bagasao sesui dengan liputan media rappler. Dia melihat negaranya selalu dihantam bencana Topan Yulanda dan ribuan warga terancam kelaparan.

Fides belajar dari bank makanan di Korea Selatan. Dimana bank makanan untuk warga yang kurang beruntung dijaringkan dengan restoran, toko bahan makanan, toko serba ada, dan pihak swasta yang dianggap mampu mengatasi kelaparan warga.

Bank makanan yang didirikan berbasis masyarakat. menjalankan operasi sehari-hari. Selain memastikan pasokan terpenuhi, sistem juga memastikan makanan yang didistribusikan bersih dan bergizi.

Bank makanan berbasis masyarakat tidak melakukan apa-apa selain menyumbangkan waktu, usaha, tenaga kerja, makanan, dan uang tunai dari sukarelawan, penyelenggara komunitas, dan sektor swasta. 

Kemudian, di tengah Krisis Keuangan Asia, pemerintah Korea Selatan mulai mendukung, mendanai, dan berpartisipasi dalam sistem makanan bank.

Penerima manfaat termasuk anak yatim piatu, penyandang cacat (penyandang cacat), orang tua, tunawisma, pengangguran, dan korban bencana alam.  

Menurut Fides, Saat ini, ada lebih dari 400 bank makanan di seluruh Korea Selatan yang didukung oleh anggaran belanja pemerintah setempat. 

Hal itulah yang mendorong Fides untuk mendirikan sebuah bank makanan di Filipina, yang dinamakan DSWD The Department Of Social Welfare And Development. Dengan Visi  memiliki bank makanan yang dikelola masyarakat dengan kemitraan yang diperkuat dengan organisasi masyarakat, keluarga, donor swasta, dan relawan masyarakat berbasis masyarakat.

Komunitas di Indonesia
Sebenarnya saya pernah melihat aksi anak muda dalam melakukan kegiatan berbagi makanan di media sosial. Nama lembaganya berbagi nasi. bahkan kalau tidak salah banyak juga anak-anak Kendari yang tergabung dengan lembaga tersebut. Tapi entah, sistematis seperti yang terjadi di London, Filipina dan Korea Selatan. 

Di Jakarta, kelompok yang biasa menginisiasi kegiatan berbagai makanan ketika terjadi bencana alam banjir dipelopori oleh anak muda kelas tengah yang biasa menamakan diri "ODOSMOV". Model mereka tidak jauh berbeda dengan berbagi nasi, dengan mengharapkan sumbangan donor orang-perorang untuk disumbangkan ke warga yang membutuhkan.

Kembali ke Kebijakan Pemerintah Kota Kendari terkait pengawasan jajanan sehat. Saya kira anak tidak hanya butuh jajanan sehat tetapi juga penting untuk menciptakan ketahanan pangan untuk semua, mengingat kita terus diintai dengan krisis pangan. 

Model yang ditawarkan Food Bank berbasis komunitas di London, Korea Selatan, Filipina danatau yang dilakukan anak-anak Indonesia seperti berbagai nasi dan odosmov bisa dikembangkan dengan cara sistematis dan bersifat jangka panjang di Kota Kendari. 

Mari sediakan generasi penerus dan warga yang kurang beruntung pangan yang sehat...

Sumber Data
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3812672/cerita-di-balik-keputusan-pemerintah-impor-beras-500000-ton

https://www.rappler.com/move-ph/issues/hunger/48031-lessons-south-korea-food-banks

https://www.westerngazette.ca/news/more-students-accessing-the-london-food-bank/article_b97b514e-f5dd-11e7-bc1d-63abff1ffeec.html

https://sekilaskendari.blogspot.co.id/2017/12/jangan-buang-makananmu.html

https://sekilaskendari.blogspot.co.id/2018/01/kegagalan-mengelola-ekonomi-kembali.html

https://sekilaskendari.blogspot.co.id/2018/01/penyebab-kenaikan-harga-minyak-tahun.html

https://sekilaskendari.blogspot.co.id/2018/01/penyebab-demonstrasi-bentrokan-di-iran.html

https://odosmov.wordpress.com/

http://www.berbaginasi.com/

Wednesday, December 13, 2017

Jangan Buang Makananmu

Sekitar sepertiga makanan di seluruh dunia terbuang.

Sumber Foto : http://www.dokterdigital.com/id/news/765_bank-dunia-sepertiga-makanan-dunia-terbuang.html


Oleh Elizabeth Royte

Tristram Stuart punya 24 jam untuk menghasilkan hidangan berkelas restoran bagi 50 orang—merancang menu, mencari bahan, kemudian menyambut para tamu di sebuah acara yang berlokasi bukan di kotanya. Sebuah peraturan menambah pelik situasi yang mirip perlombaan acara realitas ini: Hampir semua bahan harus berasal dari pertanian dan pedagang yang berniat membuangnya.

Stuart bergegas kembali ke New York, dari sebuah peternakan tempatnya mengumpulkan 30 kilogram labu kuning bengkok, yang oleh petani dianggap terlalu bengkok untuk dijual. Setelah itu ia melesat dari mobil yang merayap di tengah kemacetan menuju toko roti. Jangkung dan pirang, dengan aksen Inggris elegan, dia meluncurkan rayuan sepuluh detiknya: “Saya mengelola organisasi yang menjalankan kampanye untuk mencegah pembuangan makanan, dan besok saya akan menggelar pesta dengan hidangan dari makanan yang tak bisa dijual atau disumbangkan untuk amal. Anda punya roti yang bisa kami manfaatkan?” Toko roti itu tak punya apa-apa, namun si pegawai memberinya dua keping biskuit patah untuk menghiburnya.

Stuart melompat ke mobil. Tujuan berikutnya: pasar tradisional Union Square, tempatnya melihat koki membungkus ikan dalam adonan roti manis persegi, kemudian memotong pinggirannya menjadi bentuk setengah lingkaran. “Bolehkah saya meminta sudutnya?” tanya Stuart, tak lupa menyunggingkan senyum menawannya. Si koki, tak terkesan, menolaknya. Dia akan memanfaatkan sisa adonannya sendiri. Pantang menyerah, Stuart menyisir pasar, meluncurkan bujuk rayu, berhasil mendapatkan daun bit, rumput gandum, dan apel buangan.

Delapan belas jam kemudian sepasukan koki, pakar pemanfaatan bahan pangan buangan, dan aktivis, berdiskusi tentang limbah makanan sera-ya menikmati tempura labu, pangsit lobak dan tahu, dan mi keriting zucchini buatan Koki Celia Lam. Stuart sendiri hanya memasak segelintir hidangan, namun tanpa sekali pun rapat formal, dia menyihir enam orang untuk menyusun menu, mengumpulkan bahan makanan, lalu menyiapkan, memasak, menyajikan, dan membersihkan sisa hidangan untuk mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan salah seorang sosok terdepan dalam perjuangan melawan pembuangan makanan di kancah internasional.

Di berbagai kebudayaan, pembuangan makanan dianggap melanggar moral. Lagi pula, terdapat hampir 800 juta jiwa di seluruh dunia yang menderita kelaparan. Namun menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB, kita menyia-nyiakan cukup banyak makanan— 1,3 miliar ton per tahun di seluruh dunia. Angka ini  mencukupi kebutuhan pangan mereka, lebih dari dua kali. Ke manakah perginya semua makanan itu—yang jumlahnya sekitar sepertiga dari produksi di seluruh dunia? Di negara berkembang, sebagian besar lenyap saat pascapanen akibat kekurangan fasilitas penyimpanan yang memadai, jalan yang bagus, dan alat pembeku. Sebagai perbandingan, negara maju membuang lebih banyak makanan di rantai suplai saat pelaku ritel memesan, menyajikan, atau memajang terlalu banyak. Selain itu juga saat konsumen mengabaikan sisa makanan yang di dalam kulkas atau membuang makanan mudah basi sebelum kadaluwarsa.

Membuang makanan juga berdampak buruk bagi lingkungan. Menghasilkan makanan yang tidak dikonsumsi—entah itu sosis atau biskuit—sama halnya dengan menyia-nyiakan air, pupuk, pestisida, bibit, bahan bakar, dan lahan yang dibutuhkan untuk menumbuhkan tanaman. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung. Di seluruh dunia, produksi makanan yang terbuang dalam setahun menghabiskan air sebanyak setahun aliran Volga, sungai terbesar di Eropa.

Jumlah mencengangkan ini belum mencakup pembuangan dari peternakan, kapal nelayan, dan penjagalan. Jika diibaratkan negara, limbah makanan akan menjadi penghasil gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia, setelah Tiongkok dan AS. Di planet dengan sumber daya terbatas, dengan ekspektasi tambahan penduduk sebanyak dua miliar pada 2050, pemborosan ini, menurut Stuart dalam bukunya Waste: Uncovering the Global Food Scandal, sungguh tidak senonoh.

Delapan puluh kilometer di utara Lima, Peru, di kota pertanian Huaral, Stuart menyeruput segelas jus satsuma segar bersama Luis Garibaldi, pemilik Fundo Maria Luisa, perkebunan jeruk mandarin terbesar di Peru. Mencondongkan badan ke depan di kursinya, Stuart bertanya: Berapa jumlah ekspor Anda? Berapa yang ditolak? Apa alasannya? Apa yang terjadi pada produk yang terbuang? Tujuh puluh persen panenannya, ujar Garibaldi, diekspor ke Uni Eropa dan Amerika Utara. Namun 30 persennya tidak memiliki ukuran, warna, dan tingkat kemanisan yang tepat, atau memiliki noda, parut, goresan, bekas terbakar sinar matahari, jamur, atau laba-laba. Sebagian besar dijual di pasar setempat, seharga hanya sepertiga harga ekspor.

Kami bermobil 300 kilometer ke selatan. Di wilayah Ica, Stuart mewawancarai petani yang setiap tahun meninggalkan begitu saja di kebunnya, jutaan asparagus yang batangnya terlalu kurus atau bengkok, atau kuntumnya terlalu terbuka untuk diekspor. Selanjutnya seorang produsen mengakui bahwa setiap tahun dia membuang lebih dari seribu ton jeruk Minneola tangelo dan seratus ton grapefruit (buah serupa jeruk) yang sedikit cacat ke parit pasir di belakang gudang pengemasannya.

Standar kelas—yang dikendalikan industri maupun diterapkan secara sukarela—telah lama diciptakan untuk memberikan petani dan pembeli, bahasa umum guna mengevaluasi produk dan menengahi perdebatan. Pembagian kelas juga bisa membantu mengurangi pembuangan makanan. Jika petani bisa membagi asparagus atau jeruk tangelo ke kelas-kelas yang telah ditetapkan, mereka akan mendapatkan peluang lebih besar untuk mencari pasar bagi produk “kedua” mereka. Supermarket selalu bebas menetapkan standar, tentunya, namun beberapa tahun terakhir pasar swalayan berskala besar mulai mengelola bagian produk bagaikan kontes kecantikan. Hal ini untuk menanggapi konsumen, kata mereka, yang meminta produk ideal: apel bulat mengilap, asparagus lurus berkuncup tertutup rapat.

“Semua ini soal kualitas dan penampilan,” kata Rick Stein, wakil presiden divisi bahan makanan segar di Food Marketing Institute. “Hanya penampilan terbaik yang akan membuat konsumen rela merogoh dompet.” Sebagian produk yang tidak menarik konsumen akan disumbangkan ke bank makanan atau diolah menjadi hidangan siap makan atau salad, namun sebagian besar kelebihan toko bahan pangan di AS tak disumbangkan maupun didaur ulang. Stuart memuji kampanye baru beberapa supermarket di AS dan UE untuk menjual produk “jelek” dengan harga diskon, namun dia lebih mengharapkan perbaikan secara  sistemik. “Akan jauh lebih baik jika standar itu dilonggarkan,” katanya seraya menatap lautan jeruk Peru yang terlantar dan tidak memiliki pasar kedua akibat penampilan buruk atau hal lainnya.

Selama tujuh hari Stuart mengunjungi pertanian dan gudang pengemasan, merentetkan pertanyaan, mengumpulkan data, dan mengambil sampel barang tolakan. Di antara kunjungannya dia meringkuk bagaikan kalong di bangku belakang mobil yang sesak dan mengetik. Tik, tik. Dia mempersiapkan logistik untuk perjalanan riset berikutnya, kemudian menerima undangan minum dari manajer umum Bank Makanan Peru. Tik, tik. Janji temu dengan penyelamat makanan yang baru saja terbang dari Santiago, Cili. Ke mana pun dia pergi, sepertinya orang-orang ingin menyampaikan kepada Stuart cerita mencengangkan tentang limbah makanan.

Walaupun kurang tidur, belum bercukur, dan kadang-kadang pening—bukankah percuma jika mendatangi negara baru tanpa mencicipi minuman fermentasi khas di sana? Di tengah lalu lintas yang sarat asap kendaraan, dia mengatur janji temu dengan seorang anggota kongres Peru yang tengah berusaha menjegal undang-undang pajak yang lebih memberikan insentif untuk membuang kelebihan makanan daripada menyumbangkannya. Selagi kami melewati jalan yang berliku-liku, dia menggarap revisi usulan proposal pengurangan pembuangan makanan untuk Parlemen Inggris. Kemudian dia berpaling kepada para koleganya dan memaparkan gagasan mengenai “sup disko” Lima—makan bersama dengan memanfaatkan bahan terbuang, mirip perjamuan di Kota New York—yang akan diselenggarakan selama empat hari untuk 50 sampai 100 orang.

Apakah tujuan sup disko, selain menyelamatkan makanan? Meningkatkan kesadaran dan membangun komunitas. Kendati samar, ini berhasil. Seraya mengobrol, memasak, dan makan bersama, koki dari Lima hingga London terhubung dengan badan amal yang dilanda dahaga akan barang buangan mereka; wirausahawan California berhasil merumuskan skenario untuk menyelamatkan buah berpenampilan buruk dari penguburan; kelompok masyarakat berhasil menyusun rencana untuk mendirikan jaring-an penyelamatan makanan di Kenya; pabrik bir Belgia terdorong untuk mengubah roti basi menjadi bir yang bisa dijual.

Sup disko di Lima terlihat seperti aksi gegabah, mengingat Stuart berjarak lima jam dari kota, sudah ditunggu sebuah perkebunan pisang di Kolombia, tidak mengendalikan ruang makan maupun dapur, dan tak punya anggaran dan bahan makanan. Tetapi sejarah membuktikan bahwa dia mungkin akan berhasil.

Stuart, kini, 38, lahir di London, bungsu dari tiga lelaki bersaudara. Dia tinggal di kota secara paruh waktu namun pada usia 14 sepenuhnya pindah bersama ayahnya ke wilayah pedesaan East Sussex. Di seberang lembah berdirilah rumah mewah kakeknya, properti luas dengan cukup pekerja untuk mengawaki tim kriket dalam pertandingan melawan desa setempat pada masa Perang Dunia II. Ayah Stuart, Simon, dibesarkan di sana, dan cerita tentang kekayaan pertanian mereka memikat putra bungsunya.

Tinggal berkilo-kilo meter dari kota terdekat namun secara psikologis akrab dengan pertanian kakeknya yang bisa mencukupi kebutuhan mereka, membentuk kepribadian Stuart. Ayahnya mengurus kebun sayur besar, dan Stuart memelihara babi dan ayam di sana. Sebagai penukar pupuk kandang, Simon memberi Tristram potongan sayurnya. “Jadi saya punya telur dan daging, dan kerap keluar bersama musang saya untuk berburu kelinci dan menembak rusa,” kata Stuart. Isi ruang penyimpanan makanan hampir selalu lengkap. Stuart mulai menjual daging babi dan telur kepada orangtua teman-teman sekolahnya, namun dia segera menyadari bahwa membeli pakan ternak bisa membuatnya bangkrut. Dia memulai di rute yang biasa dilewatinya: memunguti kentang berwujud buruk dan kue basi dari toko setempat dan dapur sekolahnya. Dia mengembangbiakkan babi betinanya, Gudrun, dan menyadari bahwa masyarakat di sekitarnya membuang sangat banyak makanan yang masih bagus setiap hari.

Kesadaran lingkungan Stuart kian terasah. Pada usia 12, dia menulis makalah tentang persamaan bahan bakar fosil dengan rokok—keduanya merusak badan dan menyebabkan kecanduan. Setelah menghabiskan sebagian waktunya di sebuah peternakan di Prancis, dia diterima di University of Cambridge, tempatnya mempelajari sastra Inggris dan mengalami pencerabutan keji dari surga agro-ekologisnya. Makanan sekolah dibuat “tanpa mengacu pada kriteria ramah lingkungan,” ujarnya. Untuk menanggapinya, dia bersama para aktivis kampus lainnya menikmati makanan yang berhasil mereka bebaskan dari tong sampah supermarket. Dia juga meminum sari apel yang diperas dari buah apel orang lain, berbagi otak panggang, limpa gulung, dan keripik kuping dari begitu banyak keturunan Gudrun, dan—setelah mengetahui bahwa rasanya enak—menghirup siput dari kebun teman-temannya.

Tidak mengherankan jika Stuart pernah giat berteater. “Saya lumayan menyukainya,” ia berkata, walaupun kegiatan ini akhirnya “menghalanginya melanjutkan tugasnya yang sangat penting, yakni menyelamatkan Bumi.” Dia cukup menyadari bahwa para mahasiswa kaya yang memunguti wadah-wadah ricotta yang belum dibuka dari tempat sampah memiliki kekuatan untuk memengaruhi orang lain. Ketika itu, ujarnya, baik supermarket maupun agen-agen pemerintah belum memiliki kebijakan yang jelas mengenai limbah pangan. Hal ini akan segera berubah.

Pada 2002 kegemaran Stuart mengorek tempat sampah menarik cukup perhatian untuk membantunya menghasilkan video dokumenter mengenai pembuangan makanan bagi sebuah acara politik di BBC, dan aktivis di seluruh dunia menghubunginya untuk bermitra dalam penyelamatan makanan. (Saat itu dia tinggal di London.) Dengan cukup data mengenai di mana dan mengapa tepatnya bahan pangan hilang di rantai makanan, dia menyadari bahwa sesungguhnya ia bisa berbuat sesuatu mengenai hal ini. Saat itulah benih bukunya, Waste, mulai ditebar. Di dalam buku itu dia menginvestigasi penyebab dan dampak lingkungan pembuangan makanan di seluruh dunia.

Waste mendapatkan banyak pujian, namun Stuart menyadari bahwa buku yang sarat data tidak akan bisa menjaring jutaan pembaca, padahal dia benar-benar berharap jutaan orang akan mendukung upayanya. “Karena itulah saya membuat Feeding the 5.000,” ujarnya, meniru instruksi Yesus dalam Yohanes 6:12, yakni “Kumpulkanlah potongan kelebihannya, supaya jangan satu pun yang terbuang.” Diluncurkan pada 2009, Feeding the 5.000 akan menjadi batu loncatan Stuart—perjamuan umum gratis yang sepenuhnya dibuat dari makanan tak bertuan. Acara serupa dibuat ulang di lebih dari 30 kota. Ribuan orang turut menikmati hidangan, publikasi media mengikuti, dan masyarakat mulai gencar menyuarakan keberatan atas pembuangan makanan. Tak lama kemudian Stuart mulai memberikan ceramah di seluruh dunia dan mengkritik pedas aktor-aktor paling berkuasa dalam industri pangan. Banyak di antaranya harus membela diri dalam polemik yang diciptakannya. Supermarket mulai menganggapnya sebagai “duri dalam daging,” katanya. “Dan itu benar.”

Dari manakah kepercayaan diri luar biasa Stuart berasal? Entah dari mana memulainya. Stuart adalah sosok ambisius, agresif, dan penuh narsisme. Namun dia juga pintar bicara, jenaka, dan sangat menguasai bidangnya. “Ketika dia berbicara, Anda ingin mengikutinya,” ujar Dana Gunders, spesialis pembuangan makanan dari Natural Resources Defence Council yang menulis Waste Free Kitchen Handbook. “Dia benar-benar andal, bukan hanya dalam menularkan gairahnya kepada orang lain melainkan juga memeliharanya, mengisi pasukannya dengan orang-orang yang sama bergairahnya dalam mengambil tindakan untuk mengatasi pembuangan makanan.”

Stuart mengambil setiap kesempatan yang ada untuk menyantap makanan yang kurang menimbulkan selera—strategi untuk mengambil yang tidak bisa diambil dari tempat sampah, sekaligus memberikan contoh perilaku positif. Pada pagi pertamanya di Peru dia memakan dadih darah ayam. “Saya belum pernah makan itu,” ujarnya dengan gembira. Saat makan siang, dia menyantap daging marmot. Pada hari kedua, dia memesan babat sapi; pada hari ketiga, lidah dan bergelas-gelas pisco—brendi khas Peru.

Asupan protein tampaknya memberikan energi bagi Stuart untuk menghadapi percakapan di pertanian dan gudang pengemasan, yang dengan cepat menjadi sarat angka. Sekian kilo, ton, kontainer, peti, persentase yang ditolak, diselamatkan, dibiarkan mati. Dia mampu mencerna seluruh detail itu. “Saya ingin bisa mengatakan kepada orang Eropa bahwa kesukaan mereka terhadap asparagus berkuncup tertutup setara dengan X juta hektare lahan, X juta galon air, dan X juta kilo pupuk yang terbuang.” Dia menarik napas. “Saya ingin diberitakan, dengan lugas mengatakan kepada orang-orang bahwa pilihan mereka bermakna.”

Seiring dengan kekhawatiran pemerintah mengenai cara memberi makan lebih dari sembilan miliar manusia pada 2050, banyak yang berpendapat bahwa produksi makanan dunia harus ditingkatkan antara 70 hingga 100 persen. Namun pertanian dianggap sebagai salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan planet kita. Sektor ini bertanggung jawab atas penggunaan 70 persen air bersih, 80 persen deforestasi tropis dan subtropis dunia, dan 30 hingga 35 persen emisi gas rumah kaca buatan manusia. Pertumbuhan populasi dan kebangkitan ekonomi menambah permintaan akan daging dan produk susu, yang membutuhkan banyak biji-bijian dan sumber daya lainnya untuk menghasilkan kalori yang relatif kecil. Dengan demikian, dampaknya pun akan semakin buruk. Tetapi, mengubah lebih banyak alam liar menjadi lahan pertanian mungkin tidak diperlukan, sebagian pakar berpendapat. Jika kita mengurangi pembuangan makanan, mengubah pola makan kita dengan mengurangi daging dan produk susu, lebih sedikit mengubah panenan bahan makanan menjadi bahan bakar nabati, dan memberdayakan lahan beperforma buruk, kita mungkin akan mampu memberi makan lebih dari delapan miliar manusia berpola makan sehat. Hal ini bisa dilakukan tanpa harus membabat lebih banyak hutan hujan tropis, membajak lebih banyak padang rumput, atau merusak lebih banyak lahan basah.

Stuart tidak pernah melupakan gambaran besar ini, namun dia menyadari bahwa perubahan paradigma terjadi berangsur-angsur. Ia pun berdiri di gurun pasir di belakang gedung pengemasan di Ica, dengan gigih mewawancarai Luis Torres, manajer umum Shuman Produce Peru. Akibat tidak ada pasar lokal yang mau menerima sisa ekspornya, setiap tahun Torres membuang sekitar 1.500 ton bawang bombay kecil atau berbentuk kurang bulat. Namun dia enggan menyalahkan pembeli atas kerugian ini.

“Jika saya mengeluh, supermarket akan mencari petani baru,” katanya, mengangkat bahu. “Saya berpaham praktis. Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk mengubah peraturan.”

Berdiri dengan kaki mengangkang dan tangan bersedekap, Stuart menyahut, “Saya bisa.”

Tiga tahun silam, selama sepekan Stuart menjelajahi pedesaan Kenya, berburu bahan untuk makan malam formal di Nairobi, tempat Program Lingkungan Hidup (UNEP) PBB akan menyoroti masalah pembuangan makanan. Seratus lima puluh kilometer dari ibu kota, dia menemui petani yang dipaksa oleh standar kosmetik Eropa untuk membuang 40 ton kacang polong, brokoli, kacang kapri, dan buncis per minggu—cukup untuk memberi makan 250.000 orang. Dalam setahun Stuart bersama kru kamera kembali ke Kenya dan mendapati bahwa petani menyingkirkan hampir setengah panenan mereka di ladang dan gudang pengemasan. Petani polong-polongan pun kehilangan lebih banyak karena harus memotong pucuk dan ekor dari produk mereka yang masih bertahan. Pihak supermarket juga secara rutin membatalkan pesanan di menit terakhir tanpa memberikan kompensasi kepada petani. Setelah Feedback memublikasikan gambar-gambar kacang polong tolakan dan menuduh jaringan supermarket besar telah mengalihkan biaya yang harus mereka tanggung ke petani yang relatif tidak berdaya, pedagang Inggris siap berdiskusi. Mereka akhirnya setuju membayar pembatalan pesanan dan memperpanjang kemasan mereka agar polong hanya perlu dipotong di salah satu ujungnya. Tidak hanya pembuangan makanan dan sumber daya yang berkurang, lahan yang dibutuhkan para petani juga berkurang beberapa hektare.

Laporan Feedback tentang polong-polongan Kenya pada 2015 hanyalah satu pencapaian di tahun yang menjadi titik balik itu. Di akhir 2015 PBB berjanji me-ngurangi pembuangan makanan hingga setengah pada 2030. Mekanisme pasti dari tujuan ambisius ini belum dijabarkan. Namun sejumlah negara dan perusahaan menciptakan dan mengadopsi pengukuran standar untuk menghitung buangan. Jika target terpenuhi, akan ada cukup makanan yang bisa diselamatkan untuk memenuhi kebutuhan setidaknya semiliar manusia.

pada suatu kamis siang di September yang mendung, Stuart berjalan melintasi ladang becek di utara Prancis. Dia merogohkan kedua tangannya ke gundukan tanah dan mengeluarkan beberapa butir kentang berkulit tipis, yang, akibat ukurannya yang hanya seujung ibu jari, lolos dari cengkeraman mesin pemanen. Selama satu setengah jam berikutnya, dia dan sekelompok pemungut mengais-ngais tanah. Tujuan mereka adalah Mengumpulkan 500 kilogram kentang untuk acara Feeding the 5.000 yang akan diselenggarakan pada Minggu di pusat aktivitas sipil Paris, Place de la République nan megah. Keesokan harinya Stuart dan sekelompok relawan lain dari organisasi mitranya mencuci timbunan buruan mereka di sebuah bangunan kosong di 12th arrondissement.

Sabtu tiba, waktunya makan. Berkumpul di barisan meja plastik di alun-alun, ratusan relawan datang dan pergi dalam kurun waktu empat jam, memotong kasar sekitar 1.800 kilogram kentang, terung, wortel, dan paprika merah—sebagian dipungut dari pertanian, sebagian sumbangan dari pasar grosir Rungis. Kebanyakan adalah veteran yang memasak untuk massa. Para penolong ini memindahkan produk dari peti-peti ke mangkuk-mangkuk plastik raksasa kemudian ke kantong plastik biru. Pada pukul lima pagi di hari Minggu, Koki Peter O’Grady, penganut Hare Krishna yang mengelola dapur umum di London, menuangkan isi kantong-kantong itu ke tangki logam setinggi dada di atas kompor gas.

Menjelang tengah hari, taman telah ramai. Para musisi tampil di panggung dan sejumlah wortel dan terung berkaki dua berpawai sambil menyerukan, “Berhenti membuang sayur!”

Stuart tidak terlihat, kehadirannya sudah tidak lagi diperlukan. Saat 6.100 orang mulai mengantre, para penyaji segera mengenakan sarung tangan, topi, dan celemek mereka. Pada tengah hari, Stuart datang. Dia naik ke panggung dan menyambar pengeras suara. Dia mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang memungkinkan perjamuan ini diadakan, menyebut pembuangan makanan sebagai skandal, secara singkat menghubungkan pertanian dengan perubahan iklim, kemudian turun dari panggung. Namun sebelumnya dia tak lupa berseru, “Bon appétit.”  

Sumber : www.nationalgeographic.co.id

Kebijakan dan Dampak Virus Corona di Indonesia

Ilustrasi Kekuatan ekonomi China sangat luar biasa di dunia saat ini. Kebangkitan ekonomi China bahkan mengalahkan Amerika Serikat. ...