Wednesday, January 29, 2020

Ilmuan Australia Menemukan Novel Coronavirus


Sebuah kabar menggembirakan vaksi novel coronavirus telah ditemukan para ilmuan dari Australia. Hal itu diumumkan Doherty Institue melalui websitenya.

Rumah Sakit The Royal Melbourne, Kepala Laboratorium di Dahorty Institute Dr Julian Druce mengungkapkan terobosan yang signifikan karena diagnosis virus yang akurat secara global. 

Pemerintah Cina telah merilis genom novel coronavirus dan sangat membantu untuk dilakukan diagnosis. Sehingga kita bisa menvalidasi dan menverifikasi semua cara pengujuan dan membandingkan sensitivitas dan spesifisitas untuk mengubah virus tersebut" Kata Dr Druce.

Vaksin ini rencananya akan dugunakan sebagai bahan kontrol positif dengan jaringan laboratorium dan kesehatan masyarakat Australia, dan juga dikirim ke laboratorium ahli bekerjasama dengan WHO di eropa" lanjutnya. 

Dr Mike Catton, Wakil Direktur Doherty Institute, mengatakan bahwa vaksin akan mengisolasi virus dengan teknologi molekuler dan memerangi virus.

"Uji vaksin akan memungkinkan untuk menguji retrospektif pasien yang dicurigai untuk mengetahui seberapa luas, dan akibatnya lain dan tingkat kematian sebenarnya", Kata Dr Catton.

Virus novel coronavirus dari sampel tiba di laboratorium di Rumah Sakit Royal Melbourne di Dahorty Instititue pada hari jumat, 24 Januari. 

"Kami sudah merencanakan untuk mengantisipasi kejadian seperti selama bertahun-tahun, dan itulah mengapa kami menemukan jawaban dengan begitu cepat" Kata Dr Catton.

Dr Catton juga memuji keberhasilan laboratorium dan dinas kesehatan Australia yang bekerja secara efektif. 

"Kami sangat senang dengan keberhasilan itu dan senang bisa merespon dengan cepat penyakit itu"

Sumber :  https://www.doherty.edu.au/news-events/news/coronavirus



Tuesday, January 28, 2020

Update Kendari 28 Januari : Wuhan Coronavirus Outbreak


Update 28 Januari 2020

Perkembangan Coronavirus pagi ini (data 28/01/2020) Jumlah korban makin meningkat. Korban meninggal Dunia sebanyak 132 Orang, Terinfeksi 9.239 orang, Terindikasi 5.974 orang, Pasien Parah 1.239 orang. Korban makin makin mengerikan

Penyebaran coronavirus ke negara lain mengalami perkembangan juga dalam warga yang terinfeksi berikut datanya yang dikutip dari wikipedia

Pertama, Thailand mengkorfimasi enam kasus baru lagi, jadi total yang terinfeksi di Thailand sebanyak 14 orang. Pasien merupakan wisatawan asal Tiongkok China.

Kedua, Jepang mengkorfimasi sebanyak 3 kasus baru, sehingga total yang terinfeksi virus sebanyak 7 orang di Jepang.

Ketiga, Kasus pertama terinfeksi coronavirus di Jerman. Orang yang terinfeksi adalah Warga negara Jerman yang tidak pernah melakukan perjalanan ke Wuhan China. Namun, memiliki hubungan dengan kolega china dan terinfeksi coronavirus. jadi sebanyak 3 orang yang terinfeksi di Jerman.

Keempat, Prancis juga menemukan kasus yang pertama. Seorang Wisatawan asal china yang terjangkit coronavirus dan dalam kondisi di Prancis sekarang ini.

Kelima, Kanada juga demikian, mendeteksi seorang pria yang berusia 40 tahun, karena baru-baru ini melakukan perjalanan ke Wuhan.

Keenam, Pemerintah Brazil melalui menteri kesehatan melaporkan 3 kasus baru terduga terinfeksi coronavirus.

Kebijakan Pemerintah Berbagai Negara
Pertama, CDC China mengatakan akan menempatkan stafnya di 20 bandara AS yang memiliki fasilitas karantina.

Kedua, Filipina menangguhkan penerbitan visa bagi wisatawan Tiongkok China.

Ketiga, Thailand melalui menteri kesehatan, Anutin Charnvirakul menyatakan "kita tidak dapat menghentikan virus corona di negara ini".

Keempat, Pemerintah Hongkong melalui Carrie Lam menyatakan Layanan kereta cepat antara Hongkong dan China daratan akan dihentikan mulai 30 Januari, begitupun jalur layanan transportasi lainnya untuk menghentikan penyebaran coronavirus.

Pemerintah Hongkong juga meminta semua karyawannya untuk bekerja dalam rumah, kecuali dalam kondisi sangat penting.

Terakhir pemerintah Hongkong melalui Carrie Lam kembali mengeluarkan kebijakan untuk menutup perbatasan China - Hongkong, Man Kam To dan Sha Tau Kok.

Kelima, Pemerintah Inggris memperingatkan warganya untuk tidak melakukan perjalanan ke China, kecuali dalam kondisi sangat penting.

Penelitian

Pertama, Sebuah penelitian ilmuan Inggris - China mengemukakan bahwa pasien yang terinfeksi coronavirus jauh lebih tinggai dari yang diperkirakan. Dalam laporannya menyebutkan korban terinfeksi coronavirus sudah mencapai 26.701 kasus per 28 januari 2020.

Kedua, Para ilmuan Dohert Institute di Melbourne mengemukakan telah berhasil menumbuhkan 2019-nCo dari sampel pasien.

20_Wuhan_coronavirus_outbreak

Corona Virus Di Indonesia

Tingkat penyebaran corona virus sangat cepat ke berbagai negara. Update 28 Feb, 17 negara terjangkit dari benua asia, eropa, sampai amerika. 

Untuk Indonesia sendiri berdasarkan berita media massa sudah terdapat di 6 provinsi meliputi DKI Jakarta, Bandung Jawa Barat, Sorong Papua, Manado Sulawesi utara, Jambi, dan Bali.

Kota Kendari sendiri merupakan salah satu tempat transit para TKA China yg jumlahnya puluhan ribu sebelum menuju ke lokasi pertambangancdi Marowali dan Morosi. 






Monday, January 27, 2020

Update Kendari : Corona Virus


CoronaVirus atau Virus Wuhan atau 2019-NCoV merupakan virus yang menjangkiti tubuh manusia dan sangat berbahaya karena menyebabkan meninggal dunia sangat cepat.

Awal mula coronavirus berasal dari Kota Wuhan, China. Adapun sumber virus dicurigai berasal dari pasar makanan yang menjajakan hasil laut dan hewan hidup seperti tikus, ular, kelelawar dll. Sebagaimana kebiasaan orang China yang percaya bahwa makan hewan hidup seperti ular, tikus dan kelelawar mampu menciptakan umur yang panjang dan kekuatan dalam tubuh.

Pola penyebaran 
Coronavirus menyerang manusia dengan menyerang saluran pernafasan dan berujung kematian. Pola penyebaran virus dapat melalui antar manusia karena faktor kontak mata, keringat, dan sebagainya.

Tanda penyakit berupa demam diatas 38 derajat, sukar bernafas, batuk dan sakit kepala. Ironisnya sampai sekarang, belum ada pihak di dunia ini yang mampu untuk menemukan vaksinnya. Semuanya masih menggunakan asumsi danatau menggunakan obat penyakit lain seperti obat sars, HIV dll, untuk mengisolasi virus dalam tubuh manusia.

Awal mula kejadian di Wuhan
Menurut Komisi Kesehatan Wuhan, Kemunculan Coronavirus bermula dari pasien yang datang berobat 12 desember 2019, seorang pasien mengalami penyakit pneumania. Pasien pun makin bertambah dari hari ke hari.

31 desember 2019, pasien menjadi 27 orang. Pihak otoritas rumah sakit mulai curiga dengan kondisi yang ada. Tidak sampai seminggu, pasien makin besar berjumlah 59 orang dengan 7 orang yang sakit parah.

Update 21 Januari 2020
Isu coronavirus atau biasa yang dinamakan 2019-NCoV yang terjadi di Wuhan  China pada tanggal 20 Januari. Mulai menarik perhatian netizen Indonesia pada tanggal 21 Januari. Berikut data korban di China :


  • Meninggal dunia 6 orang
  • Terinfeksi virus sebanyak 300 orang
  • Penyebaran mulai masuki negara di asia seperti Taiwan, Hongkong, Thailand, Korea Selatan dan Japan.
Update 22 Januari 2020
Pemerintah Indonesia melalui Menteri Kesehatan dan Menteri Perhubungan mengantisipasi dengan cara menyiapkan alat pendeteksi orang asing yang akan masuk Indonesia. Sebanyak 135 pintu masuk Indonesia melalui jalur darat, udara dan laut mulai siaga.

Data korban di China makin meningkat begitupun penyebarannya :
  • Meninggal dunia 17 orang 
  • Terinfeksi meningkat dua kali lipat menjadi 600 orang.
  • Penyebaran ke negara lain meningkat, mulai masuk ke negara Amerika Serikat.





Corona Virus Sebabkan Wuhan China Keos

Coronavirus salah satu penyakit mematikan yang menciptakan Kota Wuhan menjadi keos. Pasca WHO menetapkan darurat, pusat virus tempat penjualan binatang hidup dituduh sebagai biang keladi virus, sehingga Toko semua tutup dan ketakutan. Sebagian warga takut kelaparan mendatangi pasar buah dan sayur untuk akses makanan walau harus berkelahi. 

Situasi lain yang menimpa pasien corona virus yang tak mendeteksi dirinya terkena virus harus berakhir dengan pingsan dan meninggal di pinggil jalan. Uang tak ada artinya jika kesehatan memburuk dan mematikan.

Cerita lain di rumah sakit, puluhan perawat dan dokter yang sebelumnya sebagai pahlawan menolong pasien harus terkena imbas. Coronavirus sangat cepat menyebar, jadi bulan hanya pasien yang meninggal, perawat dokter pun ikut meninggal.

Begitupun dengan situasi di Rumah Sakit Wuhan, Ribuan orang ingin berobat karena terserang virus namun pihak dokter tidak sanggup melayani semua. Akhirnya sebagian warga Wuhan meninggal di RS tanpa mendapatkan perawatan. 

Video ini dipersambahkan untul Warga Kota Kendari dan Warga China yang sedang berada di Kendari, Morosi dan Marowali. Mengingat kendari sebagai jalur utama TKA pekerja tambang dari China dan salah satunya berasal dari Kota Wuhan China

Nonton Videonya dibawah ini



Saturday, January 11, 2020

REKAYASA DEMI DANA DESA




Diduga ada pejabat desa di daerah yang merekayasa aturan guna mendapat lebih banyak dana desa. Pengawasan dan verifikasi mesti diperkuat untuk mengatasi masalah ini.

Konawe, Kompas – Dem menadapat semakin banyak kucuran dana desa, ada pejabat di daerah yang diduga merekayasa peraturan agar muncul desa – desa baru. Invesitagasi kompas, akhir November, menunjukkan, fenomena itu terlihat di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Di Konawe pejabat daerah diduga ikut merekayasa pembentukan peraturan daerah (perda) untuk membentuk desa baru. Perda Nomor 7 Tahun 2011 tentang pembentukan dan pendefinitifan desa-desa di Wilayah Kabupaten Konawe seolah dibuat dan disahkan pada tahun 2011 atau setahun sebelum pemerintah menetapkan moratorium pembentukan desa baru pada tahun 2012. Padahal, perda itu sebenarnya dibuat pada pertengahan 2015 atau setelah kebijakan pemberian dana desa dari Pemerintah.

Perda Nomor 7/2011 yang dibuat dengan memundurkan tanggal atau backdate tersebut memuat pengajuan kode wilayah untuk 56 desa di Konawe. Perda itu dan surat rekomendasi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi acuan Kementerian Dalam Negeri menerbitkan kode wilayah administrasi sehingga dana desa dapat dikucurkan.

Dana desa untuk 56 desa di Konawe itu mulai dicairkan awal 2017 hingga saat ini. Pada 2017, Pemerintah menggelontorkan Rp. 60 triliun untuk 74.594 desa penerima di seluruh Indonesia. Pada tahun yang sama, dana desa untuk Konawe mencapai Rp. 219,3 milliar.

Rekayasa perda dengan membuatnya secara backdate ini terungkap saat kompas menelusuri pejabat yang terlibat dalam pembuatannya. Salah satunya Kepala Bagian Pemerintahan Kabupaten Konawe periode 2014 – 2015, Jumrin Pagala yang kini mendekam di salah satu rumah tahanan di Sulawesi Tenggara. Jumrin adalah orang yang membawa draf Perda Nomor 7/2011 untuk ditandatangani dan diajukan ke Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara agar mendapatkan kode wilayah 56 desa ke Kemendagri berjalan lancar.

Perintah Atasan
Jumrin yang tengah dipenjara 20 bulan karena perkara korupsi anggaran pendidikan saat ia menjabat pelaksana tugas Kepala Dinas Pendidikan Konawe ini menuturkan, pembuatan Perda nomor 7/2011 merupakan perintah atasannya. “Ya, jelas pimpinan langsung saya itu Sekda (Sekertaris Daerah) saat itu Achmad Setiawan). Jelas pasti melapor (Ke Bupati Kery Kanggoasa), tapi kan, Bupati tidak di kantor” ujarnya.

Perda No 7/2011 ditandatangani Lukman Abunawas, Bupati Konawe (2008 – 2013), dan Irawan Laliasa, Sekertaris Kabupaten Konawe pada tahun 2011.  Saat 56 desa diajukan Pemerintah Kabupaten Konawe untuk mendapatkan kode wilayah pada juni 2015, Lukman Abunawas menjabat menjabat Sekertaris Provinsi Sulawesi Tenggara. Kini Lukman Abunawas menjabat Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara.

Jumrin menuturkan, Suatu sore tahun 2015, dia membawa dokumen perda berisi pengajuan 56 desa itu ke rumah Lukman untuk ditandatangani. Pada hari yang berbeda, Jumrin membawa dokumen perda ke rumah Irawan. Meskipun sudah tidak lagi menjabat di Konawe, keduanya tetap tanda tangan.

Setelah perda ditandatangani Lukman dan Irawan, Jumrin membawa surat pengajuan 56 desa dilampiri Perda No 7/2011 ke Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara. Surat pengajuan ditandatangani Sekretaris Kabupaten Konawe pada tahun 2015, Achmad Setiawan.

Pengajuan kemudian ditindaklanjuti menjadi surat rekomendasi Gubernur Sulawesi Tenggara ke Kemendagri yang menyetujui pemberian rekomendasi pemberian kode wilayah administrasi terhadap 55 desa di Konawe. Hanya satu desa yang tidak direkomendasikan, yakni Desa Wiau di Kecamatan Routa, karena masih dalam penyelesaian sengketa batas wilayah antara Kabupaten Konawe dan Kabupaten Kolaka Utara.

Achmad mengaku hanya melampirkan perda sesui yang diberikan Jumrin dan Kabag Hukum Pemkab Konawe Badaruddin. Dia tidak memeriksa keabsahan Perda itu. “mereka yang kasih. Tidak tahu itu (perda) asli atau tidak”, Kata Achmad.

Saat dikonfirmasi, Lukman menyangkal pernah menandatangani Perda No 7/2011. Dia mengklaim ada oknum yang memalsukan tanda tangannya di perda itu. “Saya, kan, 2011 Bupati (Konawe), tetapi mereka bikin (perdanya) 2015. Yang salah siapa, yang menggunakan dana itu setelah saya tidak bupati lagi”, Kata Lukman

Sementara itu, Irawan tak membantah jika tanda tangannya ada pada perda No 7/2011. Namun, ia lupa kapan menandatangani dokumen itu. “Saya tidak ingat, tetapi saya akui itu mirip. Yang pasti 2011 tidak ada revisi terhadap perda Nomor 2/2011”, Ujar Irawan.

Badaruddin menyangkal pernah memberikan Perda Nomor 7/2011 kepada Achmad dan Jumrin. Ia mengaku tidak tahu mengenai perda itu. Sementara Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa belum dapat dikonfirmasi. Melalui ajudannya yang bernama Fauzi, Kery mengaku belum mau diwawancara karena pertanyaan seputar dana desa di Konawe, hanya boleh dijawab Kemendagri.

Tidak Tercatat
Kepala Bagian Hukum Pemerintah Kabupaten Konawe, Apono memastikan Perda Nomor 7/2011 tidak tercatat sebagai perubahan atas perda Nomor 2/2011 tentang Pembentukan dan Pendefinitifan Desa-Desa di Konawe. Dalam lembaran daerah di bagian hukum Konawe, Perda Nomor 7/2011 tercantum sebagai perda tentang Pertanggungjawaban APBD Konawe 2010.

Apono menyebut kesalahan pengajuan 56 desa dengan melampirkan perda fiktif tidak bisa hanya dilimpahkan ke Pemkab Konawe. Ini karena Pemrov Sultra dan Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa Kemendagri pun tidak melakukan verifikasi factual terhadap 56 desa di Konawe. Bahkan, perda fiktif itu menjadi acuan untuk pemberian kode wilayah yang tertuang dalam Peraturan Kemendagri Nomor 137 Tahun 2017.

Laporan Investigasi Kompas.
Terbit di Kompas Cetak 4 Desember 2019.

Sunday, December 1, 2019

KRISIS LINGKUNGAN BAWA SULAWESI TENGGARA DALAM KEHANCURAN

Ilustrasi


Bencana makin massif terjadi di Sulawesi Tenggara. Pada tahun 2019 tepatnya bulan Juni, telah terjadi bencana besar yang meliputi tujuh Kabupaten Kota meliputi Kabupaten Bombana, Kabupaten Kolaka Timur, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Utara, Kabupaten Konawe Kepulauan, Kabupaten Konawe Selatan dan Kota Kendari. Banjir terbesar terjadi di Kabupaten Konawe dan Konawe Utara.

Berdasarkan data BPBD Provinsi Sulawesi Tenggara, Jumlah warga terdampak kurang lebih 105.107 jiwa.

Korban terdampak tersebar di Kabupaten Konawe sebesar 72.297 jiwa tersebar di 21 Kecamatan, di Kabupaten Konawe Utara sebesar 18.765 jiwa yang tersebar di 7 kecamatan 51 desa / kelurahan, di Konawe Selatan sebesar 5.245 jiwa yang tersebar di 17 Kecamatan, di Kolaka Timur 7.786 jiwa yang tersebar di 5 kecamatan. Kabupaten Bombana kurang lebih 100 jiwa yang bermukim di Desa Tongkoseng Kecamatan Tontonunu. Di Kota Kendari ribuan warga terdampak di 10 Kelurahan meliputi Lepo-lepo, Wandudopi, Wua Wua, Anawai, Bonggoeya, Mataiwoi, Andonouhu, Kampung Salo, Sodoha dan Kemaraya. Untuk bencana banjir di Kabupaten Konawe Kepulauan tidak terlalu parah. Intesitas bencana banjir terparah di Kota Kendari, berdasarkan data dibi BNPB sudah 4 kali terjadi banjir di Kota Kendari selama tahun 2019 ini.

Kerugian materi yang dialami akibat bencana banjir di Sulawesi Tenggara, berdasarkan data yang kami himpun dari berbagai media sebesar Rp. 921,8 miliar.

Kerugian terbesar di Kabupaten Konawe Utara, berdasarkan penuturan Bupati, Ruksamin menyatakan di salah satu media, kerugian meteri akibat bencana banjir mencapai Rp. 674,8 miliar. Kemudian disusul di Kabupaten Konawe, Gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi menyatakan di media bahwa kerugian bencana banjir di Kabupaten Konawe mencapai Rp. 226,58 miliar. Disusul Kabupaten Konawe Selatan berdasarkan data BPBD, kerugian mencapai Rp 19,42 miliar.  Untuk Kota Kendari berdasarkan data BPDB Kota Kendari yang diliput inilahsultra.com menyebutkan, kerugian akibat bencana banjir dan tanah longsor antara bulan Mei dan Juni 2019 kurang lebih Rp. 1 miliar. Kerugian di Kabupaten Bombana dan Konawe Kepulauan belum ada data.

Kerusakan Lingkungan Sebagai Penyebab
Berbagai pihak merasa prihatin dengan kondisi alam di Sulawesi Tenggara yang menyebabkan banjir besar antara bulan Mei – Juni 2019 lalu. Penyebabnya eksploitasi alam yang berlebihan dengan mengurangi lahan hijau sebagai penahan air untuk masuk ke bumi. Air bebas masuk ke sungai. Selain itu, Daerah aliran sungai yang kritis sehingga tanah dan lumpur masuk ke sungai mengakibatkan pendangkalan. Ketika intensitas hujan yang tinggi tidak mampu untuk menampung semua air.

Rektor Universitas Haluoleo Kendari, Prof Dr Muhammad Zamrun, dalam acara Kongres Nasional Silvikultur di Hotel Zahra tahun 2018 lalu menyatakan,“sekitar 900 ribu ha lahan kritis berada dalam kawasan hutan di Sulawesi Tenggara. Kurang lebih 300 ribu hektar lahan kritis ada dalam kawasan hutan. Untuk lahan kritis yang ada diluar kawasan hutan sekitar 600 ribu hektar” Prof Dr Muhammad Zamrun 

Guru Besar Kehutanan Universitas Haluoleo, Husna Faad Mande dalam kompas cetak menyatakan, 70% tutupan lahan hutan habis karena alih fungsi lahan menjadi pertambangan dan perkebunan skala besar. Lahan kritis di Sulawesi Tenggara menyumbang sepertiga dari total lahan kritis di Sulawesi yang mencapai 2,7 hektar.

Data perkebunan sawit dalam skala besar di Sulawesi Tenggara, yang kami dapatkan dari Ditjenbun Pertanian, menunjukkan peningkatan pembukaan lahan dari tahun 2015 ke tahun 2017 sebesar 5.060 Hektar. Pada tahun 2015, Perkebunan kelapa sawit sebesar 45.759 hektar meningkat pada tahun 2017 menjadi 50.819 hektar. Sebanyak 85% pengelolaan perkebunan Sawit didominasi oleh pihak swasta. Perusahaan negara hanya mengelola 5% dan perkebunan rakyat 10%.

Menurut Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tenggara, Sepanjang tahun 2018 sebanyak 50 izin pinjam pakai kawasan hutan untuk industry pertambangan dengan luas 43.636 hektar yang dikeluarkan di Sulawesi Tenggara. 

Menurut Nur Alam, mantan Gubernur Sulawesi Tenggara, IUP pertambangan yang diterbitkan mencapai 528 IUP, dengan luas lahan mencapai 1.495 juta hektar lebih atau 39,21 persen dari luas Sulawesi Tenggara (antara.com, 24/04/2013). Berbeda dengan Ali Mazi, Gubernur Sulawesi Tenggara yang diliput Kompas.com 26/06 menyatakan, jumlah Izin Usaha Pertambangan di Sulawesi Tenggara mencapai 393 IUP. Jadi sebanyak 135 IUP telah dicabut dalam masa transisi kepemimpinan dari Nur Alam ke Ali Mazi. Ironisnya dari 393 IUP hanya dua perusahaan yang Clean and Clear secara sempurna.

Sorotan Berbagai Pihak
Kerusakan lingkungan sebagai penyebab banjir bukan hanya datang dari kalangan akademisi Universitas Haluoleo. Organisasi Lingkungan Hidup Walhi menyoroti izin pertambangan dan perkebunan sawit yang massif tanpa pemulihan lingkungan.

Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pembukaan Pekan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia (11/07) menyoroti banjir yang terjadi di Konawe Sulawesi Tenggara. Ia menginstruksikan “Kalau selesai menambang harus reklamasi dan menghutankan kembali. Tanpa itu akan terjadi bencana”.

Menyambut komentar Wakil Presiden dalam acara yang sama, Menteri  LHK Siti Nurbaya menyatakan, Pemerintah akan membuat aturan permanen agar tidak ada izin baru untuk pengelolaan hutan alam dan lahan gambut.

Begitupun dengan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), Letnan Jenderal Doni Monardo ketika mengunjungi Konawe yang diliput bisniscom menyatakan, pengembalian fungsi hutan sebagai resapan air patut menjadi perhatian serius Pemerintah Sulawesi Tenggara. Air adalah sumber kehidupan tetapi air akan murka ketika tidak lagi meresap ke dalam perut bumi. Ia menginstruksikan agar pembentukan tim lintas ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan bencana banjir di Sulawesi Tenggara.

Solusi
Tidak bisa dipungkiri tambang masih menjadi primadona dalam pembangunan di Sulawesi Tenggara. Ekspor pertambangan masih mendominasi tahun 2019 ini,  mencapai 70% dari total ekspor. Hasil pertanian berupa mente dan kakao dan hasil perikanan kalah bersaing dengan sektor pertambangan.

Namun darisegi pendapatan sektor pertambangan hanya menyumbang Rp 99,8 miliar pada tahun 2018 dari total penerimaan daerah Rp. 705 miliar rupiah. Jauh lebih besar kerugian yang diakibatkan bencana karena kerusakan lingkungan diakibatkan pertambangan. “Rakyat biasa” terkena dampak dan total kerugian mencapai 921,8 miliar.

Nasi sudah jadi bubur, kerugian yang sangat besar tentunya akan membebani APBD Provinsi Sultra dan APBN kedepan. Olehnya itu, Kita perlu mengubah paradigma dalam pembangunan Sulawesi Tenggara kedepan.

Pertama, mitigasi bencana semua sektor dari tingkat Kabupaten hingga Provinsi. Bersama para pakar berbagai bidang ilmu harus bersama-sama Pemerintah Daerah merancang RPJMND berdasarkan karakter bencana masing – masing daerah. Selain itu, Pemprov Sultra harus bisa menjadi penengah bagi kawasan DAS dan hutan yang lintas Kabupaten/Kota.

Kedua, Bencana bukan dilawan, melainkan bagaimana beradaptasi dengan bencana tersebut. Misalnya menciptakan adaptasi dalam pertanian, adaptasi ketersediaan air, adaptasi kesehatan, adaptasi tata ruang, serta adaptasi perkotaan dll.

Ketiga, Mengevaluasi semua Izin Usaha Pertambangan dan Izin Usaha Perkebunan, bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan pihak terkait lainnya. Izin yang sudah kadaluarsa distop untuk tidak dilanjutkan lagi.

Keempat,  Pemerintah Provinsi Sultra harus mencoba merumuskan sistem ekonomi hijau atau green economic. Menciptakan pertumbuhan ekonomi berbasis pada lingkungan hidup agar anak cucu tidak terkena dampak bencana kedepan. Semua sektor pembangunan harus berdasarkan ekonomi hijau seperti sektor perikanan, sektor pertanian, sektor industri, sektor perkotaan dll.

Membangun dengan konsep ekonomi hijau memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena butuh waktu, tenaga, pikiran dan uang yang besar. Pembangunan masa sekarang bukan hanya untuk dinikmati 5 tahun yang akan datang, tetapi 10 tahun, 20 tahun hingga 50 tahun kedepan. Butuh kemauan yang besar untuk mengubah lingkungan yang rusak menjadi hijau kembali, dan pertumbuhan ekonomi tetap membaik di Sulawesi Tenggara kedepan

Baca Juga




Kebijakan dan Dampak Virus Corona di Indonesia

Ilustrasi Kekuatan ekonomi China sangat luar biasa di dunia saat ini. Kebangkitan ekonomi China bahkan mengalahkan Amerika Serikat. ...